Festival Krakatau Dibuka
Selasa, 15 Juni 2010
TNBBS Berencana Kembangkan Wisata
Rabu, 26 Mei 2010
4 Pekon di Lambar Jadi Embrio Desa Wisata
Rabu, 03 Maret 2010
Persiapan tersebut dilatarbelakangi objek dan daya tarik wisata Lambar yang telah berkembang. Ini memberikan keyakinan Pemkab bahwa Lambar memiliki kekayaan dan keragaman aset pariwisata, budaya, dan bahari.
Pantai Karang Ngimbur Kampungnya Wisatawan
Senin, 25 Januari 2010
"Pantai Karang Ngimbur merupakan kampung wisatawan, karena di sini banyak turis yang tinggal sementara atau menginap," kata salah satu pemilik losmen di pantai itu, Juliansyah, di Karang Ngimbur, Lampung Barat, Senin.
Kawasan Wisata Terpadu Lombok 'Mulang Pekon' yang Sebenarnya
Kamis, 26 November 2009
Indonesia Targetkan Wisman 7 Juta
Rabu, 14 Oktober 2009
Ribuan Turis Asing Wisata ke Lampung Barat
Senin, 12 Oktober 2009
DPRD Dukung Wisata Air Panas Dikembangkan
Minggu, 20 September 2009
Wisata, Kendaraan Pelestarian Budaya
Senin, 27 Juli 2009
FESTIVAL KRAKATAU
Minggu, 26 Juli 2009
Wisatawan Berlibur di Pesisir Krui
Kamis, 23 Juli 2009
Quo Vadis Visit Lampung Year
Sabtu, 20 Juni 2009
Palem Indah, Tempat Liburan Keluarga
Jumat, 19 Juni 2009
Ruwat Laut Jadi Objek Wisata
Jumat, 27 Maret 2009
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Wali Kota Bandar Lampung akan menjadikan ruwat laut atau ngelarung sebagai tujuan wisata di Bandar Lampung. Ruwat laut diharapkan menjadi tujuan wisata yang mampu menunjang kunjungan wisata Lampung 2009.
Pernyataan tersebut disampaikan Wali kota Bandar Lampung Eddy Sutrisno, usai acara ruwat laut di Kelurahan Sukaraja, Kamis (26-3).
Eddy mengungkapkan beberapa kali nelayan di Bandar Lampung telah melangsungkan ruwat laut di Pantai Ujung Bom, Pantai Bukit Kunyit, dan Lempasing. Acara ruwat laut tersebut berlangsung meriah dan bisa menarik perhatian warga Bandar Lampung.
Meski demikian, pengenalan upacara ruwat laut sebagai objek wisata masih teradang kondisi pesisir Bandar Lampung yang kumuh. Untuk itu, Pemkot akan secara bertahap membenahi kawasan pesisir Bandar Lampung untuk menarik para wisatawan.
"Kawasan pantai saat ini lebih bersih dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Perlahan-lahan kawasan pantai akan dibersihkan secara menyeluruh," kata Eddy.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandar Lampung Fachruddin mengatakan ruwat laut tidak hanya bisa dijadikan objek tujuan wisata, tapi juga melestarikan budaya para masyarakat pesisir. Pemerintah akan berkomitmen untuk mengembangkan tradisi ruwat laut menjadi objek wisata yang potensial.
Ruwat laut yang diadakan sebelumnya, kata Fachruddin, mampu menarik beberapa wisatawan asing yang kebetulan sedang berkunjung ke Bandar Lampung.
Para wisatawan asing pasti akan tertarik dengan budaya ngelarung atau ruwat laut karena di dalamnya terdapat tradisi unik yang berkaitan kepercayaan masyaraakat. Para wisatawan asing tertaik pada tradisi unik yang ada di masyarakat. n MG-2/K-2
Sumber : Lampung Post-27-maret-2009
Pulau Pahawang, Objek Wisata Konservasi
Senin, 16 Maret 2009
Butuh konsentrasi yang tinggi untuk mengubah dan membentuk kemauan masyarakat agar peduli terhadap keberlangsungan hutan mangrove. Apalagi untuk masyarakat yang hidup di pulau dan relatif awam dengan kata konservasi.
Kini, masyarakat Pulau Pahawang sudah tak lagi menjadi perusak, mereka bahkan sadar betapa hutan mangrove bisa memberikan banyak manfaat kehidupan buat mereka. Kesadaran ini terus dipupuk oleh LSM Mitra Bentala, mulai dari anak-anak Pulau Pahawang.
Setelah kemauan itu mulai timbul dalam benak pribadi-pribadi masyarakatnya, Mitra Bentala bersama pamong desa Pulau Pahawang juga berhasil merumuskan sebuah peraturan desa (perdes) tentang keberlangsungan hutan mangrove di Pulau Pahawang.
Perdes ini mengatur mulai dari pembibitan sampai sanksi jika ada masyarakat atau masyarakat luar yang menebang atau merusak hutan mangrove. Selain itu, masyarakat setempat juga membentuk Badan Pengelola Daerah Perlindungan Mangrove (BPDPM).
Sekarang, di beberapa sisi Pulau Pahawang sudah "rimbun" dengan pohon bakau. Sebentar lagi pulau seluas 1.084 hektare itu mungkin akan "tenggelam" oleh tebal lebatnya hutan mangrove.
Salim, warga Dusun VI, Desa Pulau Puhawang, antusias bercerita bagaimana lebatnya hutan mangrove di tempatnya kini. "Dulu yang kelihatan cuma jamban milik warga. Sekarang bakaunya sudah tebal sekali, sudah enam meter dari bibir pantai," kata Salim.
Salim kini sudah berubah. Pemuda ini dulunya terkenal sebagai pengebom ikan paling ulung dan penebang pohon bakau paling andal di Pulau Pahawang. Tapi sejak ia melihat betapa ngerinya tsunami di Aceh beberapa tahun silam, ia insyaf total dari mengebom dan menebang bakau, meski harus menutup mata pencariannya.
Salim kini menjadi "ojek laut" anak-anak sekolah sekaligus ngangon kambing. Di pagi hari usai mencari rumput untuk pakan ternaknya, ia tenggelam di dalam lumpur rawa, menanam bibit-bibit bakau, satu per satu dengan teliti. Bibit-bibit bakau yang sudah ditanam sebelumnya pun tak luput dari perhatiannya, ia bahkan tahu setiap inci pertumbuhan pohon bakau yang ditanamnya.
Lain lagi dengan Iswan Hayani, warga Dusun Suakbuah, Pulau Puhawang, yang juga anggota Divisi Pengawasan BPDPM yang baru saja selesai membuat banner berisi imbauan dan larangan. Semua itu dibuat dari modal kantongnya sendiri. "Banner ini nanti dipasang di sekitar hutan mangrove, biar tidak ada lagi yang menebang pohon bakau," kata Iswan Hayani.
Pulau Pahawang adalah gugusan pulau yang ada di sekitar Teluk Pedada, masuk dalam wilayah Kecamatan Punduh Pidada, Pasawaran. Untuk menuju pulau ini, dari Bandar Lampung harus menuju Padang Cermin. Dari suatu pelabuhan rakyat di tempat itu, perahu akan menyeberangkan penumpang ke Pulau Pahawang. Butuh waktu sekitar satu setengah jam dengan armada laut untuk sampai ke pulau lestari itu.
Kontur geografis pulau ini sedikit menjulang karena terdapat bukit batu yang berada tepat di antara permukiman penduduk. Ini yang menjadi pembeda dengan pulau-pulau lain di sekitarnya.
Banyak pula legenda yang berkembang tentang pulau ini, tapi yang terkenal justru legenda Mpok Awang, perempuan keturunan Betawi-China sebagai orang yang pertama kali menemukan dan tinggal di pulau ini pada 1800. Makam yang berada di puncak bukit batu pulau ini juga diyakini sebagai makam Mpok Awang, warga di sini menyebutnya sebagai keramat.
Uniknya, dari legenda Mpok Awang dan makamnya ini juga muncul kearifan lokal (lokal wisdom) dalam benak pribadi-pribadi masyarakatnya untuk tidak mengutak-atik apalagi sampai merambah hutan bukit batu itu karena keramat desa ada di sana. Dan ini menjadi larangan tak tersirat yang masih tetap dipatuhi.
Dari legenda itu, Suprianto dari Mitra Bentala menjelaskan kawasan hutan di puncak bukit itu tetap terjaga, ada manfaat lain dari kearifan lokal tersebut, sebagian air di pulau itu tidak payau apalagi asin, airnya layaknya daratan, terasa tawar. "Ini semua karena hutan masih terjaga dengan baik karena kearifan lokal yang dipatuhi oleh masyarakat Pulau Pahawang," kata Suprianto.
Meski demikian, di era tahun 1970-an hingga 1990-an, Pulau Pahawang terkenal sebagai masyarakat "jahiliah" yang tak kenal kompromi dengan hutan mangrove. Pulau yang ketika penduduknya masih sangat sedikit dengan pohon bakau yang rimbun ini menjadi incaran tak hanya penduduk lokal pulau saja, tapi penduduk luar pulau yang menjadikan Pulau Pahawang sebagai surga batang bakau dan cacing bakau. Dulu, dalam sehari 4.000 batang pohon bakau bisa dihasilkan dari pulau ini.
Iswan Hayani mengenang periode itu sebagai masa kelam. "Pohon bakau habis ditebangi, batangnya diolah untuk kayu atap rumah, akarnya dicabut untuk mengambil cacing-cacing yang ada di bawah akar bakau untuk dijual sebagai pakan," kenang Iswan.
Keadaan ini baru berhenti setelah pohon bakau nyaris habis tak tersisa di Pulau Pahawang, penduduk banyak merasakan dampaknya, air laut sering pasang hingga ke rumah-rumah penduduk, angin barat yang membawa gelombang cukup besar juga kerap mengkhawatirkan.
Satu lagi yang mengerikan, nyamuk malaria ganas menyerang penduduk karena habitatnya gundul dan akhirnya hijrah ke permukiman penduduk, banyak warga yang terjangkit penyakit Malaria Tropical. Cerita ini menjadi semakin pilu manakala harus ada korban jiwa yang terenggut dari efek mangrove ini.
Pelan-pelan di tahun 1999, LSM lingkungan Mitra Bentala masuk untuk mendampingi masyarakat Pulau Pahawang, bersama-sama membangun kembali lingkungan hutan mangrove di Pulau Pahawang. Setahap demi setahap proses pendampingan ini mulai menuai hasil, meski terkadang sulit karena harus mengubah total mata pencarian masyarakat setempat.
"Masyarakat sudah merasakan dampaknya, ketika lingkungan mereka rusak, dan kini ada keinginan kuat dari mereka untuk mengubah sikap itu ke arah yang lebih baik, dan kami bangga atas sikap masyarakat ini," kata Suprianto dari Mitra Bentala.
Tak hanya itu saja, Mitra Bentala juga berupaya menyisipkan kegiatan luar sekolah untuk anak-anak penerus Pulau Pahawang dengan memberikan kegiatan penanaman pohon bakau untuk anak-anak kelas III, IV, dan V sekolah dasar. Upaya learning by doing (belajar secara langsung, red) ini dimulai dari menanam, memberikan nama untuk bibit bakau yang mereka tanam sampai mengawasi pertumbuhan bibit bakau.
Kegiatan luar sekolah yang semula menjadi kegiatan nonformal, kini sudah menjadi ekstrakurikuler tersendiri, sampai akhirnya anak-anak Pulau Pahawang memiliki kelompok sendiri, yakni Anak Pecinta Lingkungan (APL), dengan jumlah tanam bibit bakau yang telah dilakukan sebanyak 3.000 batang.
Untuk ukuran anak usia dini, hal ini menjadi upaya pembentukan sikap mereka di masa depan tentang pentingnya sebatang pohon bakau yang mereka tanam, untuk pulau mereka. n MEZA SWASTIKA/M-1
(Tulisan Kedua)
'Mangrove' Pahawang untuk Bahan Penelitian
Di Bali, sebatang pohon bakau mampu menarik minat seribu orang turis bahkan bisa lebih. Dan itu menjadi mimpi masyarakat Pulau Pahawang. Mereka tak lagi ingin mencari uang dengan merusak lingkungan, tapi dengan menjual kekayaan jenis hutan mangrove yang ada di pulau tersebut sebagai wisata penelitian hutan mangrove.
Sekarang, masyarakat Pulau Pahawang memiliki sekitar 30 hektare zona inti hutan mangrove. Sistem zonasi ini untuk memetakan mana kawasan hutan mangrove yang bisa dimanfaatkan dan kawasan mana yang dilarang untuk dimanfaatkan kecuali untuk perlindungan.
Masyarakat pun membuat kesepakatan membentuk Badan Pengelola Daerah Perlindungan Mangrove (BPDPM) di bawah supervisi langsung Mitra Bentala. Badan ini diberikan pemahaman pengelolaan sampai pengawasan hutan mangrove.
Hasilnya, tingkat ketebalan hutan mangrove di Pulau Pahawang ini pun bervariasi mulai dari 4 meter hingga 10 meter dari bibir pantai. "Kita sedang mengarah ke pemanfaatan hutan mangrove sebagai kawasan wisata penelitian dengan model pengelolaan sepenuhnya oleh masyarakat, termasuk hasil yang didapat nanti," kata Suprianto dari Mitra Bentala.
Pada dasarnya, hutan mangrove tak melulu didominasi oleh pohon bakau sebagai satu-satunya vegetasi pesisir yang hidup dan harus dilindungi. Menurut Suprianto, terdapat sedikitnya 22 jenis vegetasi hutan mangrove yang dikembangkan di Pulau Pahawang. Yang ada di Pulau Puhawang sekarang adalah bakau besar, bakau kecil, bakau tinggi, bogem, nipah dan waru laut.
Meski demikian, vegetasi tanaman bakau atau yang memiliki nama latin Rhizopora sp. ini memang menjadi objek utama penarik perhatian wisatawan untuk datang meneliti vegetasi pohon bakau.
Selembar daun pohon bakau yang jatuh ke laut, mampu menetralisasi air laut dari pencemaran yang ditimbulkan oleh nelayan, limbah rumah tangga sampai limbah tambak udang.
Di kawasan vegetasi hutan mangrove juga bisa banyak dijumpai hewan-hewan laut langka yang sekarang sudah sangat jarang dijumpai di sekitar Teluk Lampung karena sabuk hijaunya habis untuk tambak udang dan permukiman maupun wisata konvensional biasa. Pada habitat hutan mangrove yang masih alami bisa dengan mudah dijumpai hewan sejenis berang-berang, mangrove jack, ikan khas yang hanya ada di hutan mangrove.
Termasuk penelitian yang lebih ekstrem, yakni nyamuk Anopheles penyebab penyakit malaria, yang menjadikan hutan mangrove sebagai habitat serangga ini. Apalagi sebagian gugusan pulau di Teluk Pedada termasuk Pulau Pahawang ditetapkan oleh Departemen Kesehatan sebagai pusat populasi nyamuk penyebab malaria terbesar kedua di Indonesia, setelah Irian Jaya.
Di sisi lain, buah pohon bakau juga menjadi penganan utama sekawanan monyet yang ada di Pulau Pahawang ini. Atau menjajal keunikan makanan lain, yakni dodol bakau, penganan baru hasil kreasi kerajinan ibu rumah tangga yang ada di Pulau Pahawang. Dodol ini berbahan baku utama buah pohon bakau, rasanya tak kalah dengan dodol durian atau lempok durian.
Awalnya, minat penelitian terhadap hutan mangrove ini muncul pascagelombang besar tsunami yang hampir meluluhlantakkan sebagian besar daerah kepulan di Samudera Hindia.
Seperti di Nangroe Aceh Darussalam, gelombang tsunami begitu banyak menimbulkan korban jiwa dan materi karena punahnya hutan mangrove. Kepunahan itu membuat mainland tak lagi mampu menahan kuatnya gelombang.
Kondisi kepulauan Aceh yang berhadapan langsung dengan laut lepas juga membuat tingkat kerusakan akibat tsunami cukup masif. Ketiadaan pulau terluar lain membuat konsentrasi gelombang tsunami tidak bisa terpecah sehingga tak heran jika gelombang setinggi pohon kelapa menerjang Aceh hanya dengan hitungan menit saja. n MEZA SWASTIKA/M-1
Wisata: Visit Lampung Terseok-Seok
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Komite Pariwisata Lampung menilai pelaksanaan program Visit Lampung Year (VLY) 2009 hingga saat ini masih terseok-seok. Selain belum mampu membangkitkan pariwisata Lampung, sejumlah persiapan pendukung seperti tourisme centre juga belum tersedia.
Sekretaris Komite Pariwisata Lampung Citra Persada mengungkapkan hal tersebut, Rabu (11-3). Ia berharap waktu sembilan bulan yang tersisa ditahun 2009 ini benar-benar dimanfaatkan pemda dan pelaku pariwisata untuk mendongkrak tingkat kunjungan wisatawan ke Lampung.
"Sampai hari ini, VLY memang belum optimal. Masih banyak kepincangan disana-sini. Bahkan, di Bandar Lampung yang menjadi ibu kota provinsi belum ada tourisme centre. Bagaimana kita bisa menarik minta orang untuk datang ke Lampung, kalau informasi soal wisata di sini saja masih sangat minim," kata Citra.
Seperti diketahui, meski sudah diluncurkan akhir tahun lalu, kemeriahan menyambut VLY belum terlihat jelas. Lampung masih seperti dulu. Meski sejumlah festival digelar, tidak terjadi lonjakan jumlah wisatawan yang datang ke Lampung.
Agar VLY bisa berjalan efektif, Citra mengajak seluruh pihak-pihak yang terlibat dalam bisnis pariwisata untuk giat mempromosikan wisata Lampung sekaligus mengisi kalender wisata yang sudah ditentukan dengan kegiatan-kegiatan yang bisa menarik wisatawan.
Sampai saat ini, kata Citra, masih ada dua bulan yang belum terisi kegiatan wisata yaitu di bulan Mei dan September. Ia berharap di bulan tersebut segera dipersiapkan agenda pariwisata yang bisa menarik pengunjung ke Lampung.
"Sekarang tamu-tamu yang akan data ke Lampung ibarat sudah di depan pintu. Tinggal bagaimana kita mau memperlakukan mereka. Mau dibukakan pintu dan mempersilakan mereka masuk lalu menikmati rumah kita atau kita suruh saja mereka pulang karena kita belum siap," kata Citra.
Karena itu, Citra berharap Pemprov sebagai lokomotif program VLY 2009 ini bisa lebih proaktif dan mengoordinasikan pemkab/pemkot untuk peduli dan menyukseskan VLY 2009. n ITA/K-1
Sumber : Lampung Post - 12-03-2009
Mengejar Koloni Burung Langka di Rawa Pacing, Menggala
Rawa Pacing berada sekitar 30 km dari Menggala, ibu kota Kabupaten Tulangbawang. Lokasi itu terletak di Kampung Kibang Pacing, Kecamatan Menggala. Untuk sampai ke lokasi tersebut, pengunjung harus melintasi jalan tanah dari Unit VIII. Namun, jika kondisi hujan, jalan tanah merah itu sangat menyulitkan kendaraan yang melintas apalagi kendaraan roda empat.
Namun licinnya jalan justru membuat pengunjung lebih tertantang. Perjalanan yang bisa ditempuh sekitar satu jam bisa terasa sangat singkat karena selama di perjalanan kita bisa menikmati suasana perkampungan yang masih asli.
Rawa Pacing sebenarnya sudah menjadi perbincangan sejak lama, khususnya pemerhati lingkungan dan satwa. Namun, masyarakat setempat melihatnya bahwa Rawa Pacing tidak lain adalah tempat mencari ikan dan tempat menggembala kerbau.
Untuk kalangan pencinta alam dan pemerhati satwa langka, khususnya spesies burung, Rawa Pacing sudah lama menjadi laboratorium berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan. Karena seringnya para aktivis melakukan kunjungan di lokasi yang luasnya sekitar 3.000 hektare lebih itu, pemerintah daerah bertekad melakukan pengembangan untuk objek wisata alam (wisata rawa).
Sampai saat ini kondisi alamnya yang masih asli, pepohonan khususnya kayu gelam masih berdiri tegak di tengah-tengah rawa. Kemudian semak belukar dan rerumputan masih mendominasi tempat berkumpulnya ribuan spesies burung langka.
Jika mau melakukan ekspedisi di Rawa Pacing, harus melihat/memantau terlebih dahulu apakah air pasang atau tidak. Sebab jika air tidak pasang, pengunjung tidak bisa masuk ke tengah rawa lantaran perahu tidak bisa terapung. Sementara jika dipaksakan jalan kaki, lumpurnya sangat dalam.
Wartawan Lampung Post, Widodo, berkesempatan mengarungi Rawa Pacing bersama Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Tulangbawang, Khairi, serta para utusan agen pariwisata tur yang tergabung dalam Asosiasi Travel Agensi (Asita) Bandung dan Jakarta, Rabu (4-3). Tim mencoba melakukan perjalanan hingga ke tengah rawa dengan menggunakan perahu dayung karena kebetulan air sedang pasang.
Masyarakat ternyata selalu menyiapkan beberapa perahu dayungnya di tepi daratan. Ada yang bisa membawa 3--5 orang atau ada yang hanya cukup satu orang penumpang. Meskipun menegangkan saat memulai naik perahu kecil, pengunjung secara berhati-hati menurut saja pemandu yang tidak lain adalah masyarakat setempat.
Meskipun badan gemetar karena perahu seakan mau tumpah (terguling), dengan tetap kosentrasi, pemilik perahu secara perlahan mulai melajukan ke tengah rawa yang kedalaman airnya sekitar 2 meter.
Setelah melaju sekitar 10 meter, perasaan pun mulai tenang dan sudah bisa mengendalikan emosi rasa takutnya. Saat mulai ke tengah, sebanyak 20-an anggota tim Asita terus memasang kamera (handycam) dan kamera digital untuk menangkap gambar burung dari kejauhan.
Untuk sampai ke pusat berkumpulnya spesies burung, pengunjung harus masuk ke rawa sekitar 1,5 kilometer hingga 2 kilometer ke semak-semak belukar. Di tengah itulah kata masyarakat setempat sekaligus pemandu perahu, menyatakan menjadi pusat berkembang biaknya ribuan spesies burung langka, termasuk burung urban dari Australia.
Hampir setengah jam, tim melakukan penjelajahan di tengah rawa. Tapi sayang kamera yang kami bawa tidak mampu mengambil gambar dalam jarak jauh, padahal puluhan burung jenis leher panjang mulai terlihat di kejauhan. Burung-burung itu masih terlihat takut ketika ada sekelompok manusia datang. Maka, meskipun baru berjarak 20 meter, burung-burung yang kita tunggu langsung terbang dan pindah tempat.
Kami memang belum bisa tuntas untuk menyusuri seluruh Rawa Pacing, tetapi dengan melakukan uji coba ke tengah rawa, setidaknya telah memiliki gambaran betapa uniknya Rawa Pacing yang saat ini menjadi hunian spesies burung-burung langka. Air yang jernih, ombak yang menggelombang dan rerumputan yang mulai tak tampak oleh air menjadi pemandangan yang sangat indah dan alami.
Keaslian alam yang masih terjaga akan menjadi kekuatan alam untuk tetap sebagai objek wisata dan daerah konservasi dunia yang menjadi daerah tujuan. Berwisata di Rawa Pacing, memang tidaklah sama seperti berwisata di tempat-tempat objek wisata buatan.
Saat ini Rawa Pacing sama seperti hutan rawa kebanyakan. Rumput, semak belukar dan menjulangnya kayu gelam, menjadi akrab untuk dilihat setiap saat. Maka itu pengunjung yang siap ke Rawa Pacing harus siap untuk lelah dan badan kotor. Dan yang paling mengasyikkan tentu jika pengunjung bisa menangkap gambar burung berleher panjang dengan tustelnya.
Di Rawa Pacing, selain bisa menjadi wisata alam (wisata rawa) juga bisa menjadi tempat untuk penelitian, khususnya terhadap berbagai spesies burung langka.
Menurut Aat Yuliati, salah satu operator travel tur dari Bandung, usai melakukan kunjungan perdananya ke Rawa Pacing, mengatakan lokasi Rawa Pacing memang bagus dan bisa dijual ke mancanegara. Tetapi yang perlu diperhatikan ialah sarana pendukungnya, terutama jalan.
Karena lokasinya jauh dari jalan utama, pemerintah harus segera membuat jalan agar layak dilalui para turis dan tempat peristirahatan. "Jangan sampai para turis ke Rawa Pacing sudah capek duluan karena di perjalanan," ungkap dia.
Sementara Yahya, Sekretaris Asita Bandung yang menjadi perwakilan di Jakarta, meminta kepada masyarakat setempat untuk tetap menjaga keaslian alam Rawa Pacing. Para turis asing justru lebih suka alam yang asli, sebab mereka sudah bosan dengan kemewahan dan kemegahan. "Jagalah alam di Rawa Pacing, dan jangan di rusak," ungkapnya.
Konservasi Dunia
Rawa Pacing, menurut konsultan Pariwisata Tulangbawang Nicolaus Lumanau, Ph.D., adalah merupakan area konservasi dunia dan menjadi migran area (tempat berpindahan burung langka dari Australia). Maka itu Rawa Pacing memiliki keunikan tersendiri dari rawa-rawa yang ada di Indonesia. Sebab berbagai spesies burung jenis leher panjang dari Asia dan Australia bisa pindah ke Rawa Pacing dan berkembang biak hingga saat ini.
Bagi masyarakat awam, Rawa Pacing tentu tidak memiliki makna apa-apa, sebab hanyalah hamparan rawa dan burung. Namun bagi seorang pecinta lingkungan dan hewan, Rawa Pacing bisa menjadi laboratorium (tempat penelitian) berbagai jenis spesies burung langka.
Untuk tahap awal, Nicolaus menyatakan akan membatasi jumlah wisatawan asing, sebab dikhawatirkan burung-burung yang ada di dalam ketakutan dan terbang untuk pindah. Meski demikian, yang penting saat ini masyarakat dunia mengakui adanya konservasi alam di Rawa Pacing.
Warga Australia sudah dua kali datang ke Rawa Pacing pada kisaran awal tahun 2000-an dan melakukan pembuktian tentang keberadaan burung Australia di Rawa Pacing.
Lokasi Mencari Nafkah
Rawa Pacing sampai kini masih menjadi lokasi untuk mencari nafkah masyarakat setempat, seperti mencari ikan dan belut, serta tempat menggembala kerbau. Pemantauan di lapangan, puluhan kerbau milik warga setiap harinya dibiarkan mencari makan sendiri ke lokasi tersebut. Meskipun menjadi tempat menggembala kerbau, habitat dan jenis burung tetap saja terjaga.
Tampaknya masyarakat juga sudah lama mendapat penyuluhan agar tetap menjaga alam Rawa Pacing tersebut. Setiap pagi pemilik kerbau melepas puluhan ekor hewan ternaknya ke rawa. Baru sekitar pukul 16.00, si pemilik atau pawang menggiring binatang bertanduk itu masuk kandang yang hanya dihalangi pagar saja.
Melihat puluhan kerbau masuk rawa dan pulang dari rawa secara bersama-sama juga bisa menjadi keunikan tersendiri di kawasan Rawa Pacing tersebut.
Kemudian pendapatan masyarakat selain bertani juga mencari ikan dan belut. Rawa Pacing itulah lokasi yang tidak pernah habis, apalagi saat-saat air pasang seperti sekarang ini. Jenis ikan seperti baung dan gabus, serta jenis ikan-ikan kecil adalah paling sering ditemui di lokasi tersebut. Hanya belut yang sulit ditangkap jika air besar seperti sekarang ini. n WIDODO/M-1
Pesona Lombok Ranau II 2008: Pesta Pariwisata Berbingkai Budaya
Minggu, 22 Februari 2009
Bening langit pagi itu memancarkan bias biru ke "belanga raksasa" yang menyimpan jutaan meter kubik air tawar nan jernih. Belanga itu adalah Danau Ranau. Telaga besar yang berada di perbatasan Provinsi Lampung dan Sumatera Selatan.
Cuaca amat bersahabat itu seolah menyambut gelaran pesta Danau Ranau ke dua hari itu. Semilir angin pegunungan nan sejuk ditingkahi seribuan tubuh yang bersiap mengikuti berbagai agenda yang direncanakan. Tak pelak, suasana meriah dan rileks mewarnai pertunjukan, perlombaan, dan event-event eksibisi, serta aksi-aksi spontanitas lainnya.
Pemanfaatan potensi berupa kearifan lokal adalah daya tarik sendiri. Sebab, kepenatan dunia modern yang hiruk-pikuk telah mengantar pikir kepada rasa kangen akan nostalgia masa lalu. Terlebih bagi orang-orang yang masa kecilnya berada di desa-desa dengan budaya yang kental dengan nilai-nilai tradisional.
Tradisi dan budaya bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal atau mancanegara jika dikemas sedemikian rupa, apalagi didukung dengan latar belakang panorama alam yang masih natural.
Itulah salah satu fenomena yang mengundang sekitar 1.000-an masyarakat dari berbagai daerah di Lampung Barat, bahkan dari Bandar Lampung dan OKU Selatan, pada kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau II tahun 2008 yang dipusatkan di Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, pada Minggu (2-11).
Event yang dilaksanakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lambar bersama Masyarakat Peduli Danau Ranau (MPDR) menyajikan empat tangkai lomba. Yakni, lomba triatlon tradisonal yang merupakan rangkaian dari berenang menggunakan pelampung dari bambu (pampangan), kebut jukung dan maraton. Lalu, lomba tarik tambang jukung, lomba memanah ikan di Danau Ranau (ngera'as), dan kapal motor hias.
Berbagai gelaran ini menggambarkan tradisi dan budaya masyarakat sekitar Danau Ranau yang memanfaatkan danau terbesar ke dua di pulau Sumatera setelah Danau Toba itu, sebagai sumber penghidupan melalui potensi ikannya dipadukan dengan adat dan budaya yang dilestarikan secara turun temurun.
Senja mulai beranjak malam, debur ombak Danau Ranau menyapa pantai Dermaga Pekon Lombok dan keangkuhan Gunung Seminung mulai pudar diselimuti gelap, Sabtu (1-11), sekitar pukul 18.00, prosesi ritual nyekhampang (doa) menjadi awal dilaksanakannya kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau.
Ritual nyekhampang yang bermakna doa, diimami salah seorang tokoh masyarakat setempat dilaksakaan menjelang waktu senja. Upacara sakral secara turun temurun yang diyakini masyarakat setempat untuk menyampaikan doa, harapan, dan keinginan demi keselamatan dan keamanan dari hal-hal yang tidak diinginkan dalam prosesi Gebyar Pesona Lombok Ranau yang berlangsung satu hari penuh.
Kegiatan puncak Gebyar Pesona Lombok Ranau yang menjadi kebanggaan masyarakat sekitar Danau Ranau, dilaksanakan Minggu (2-11), masyarakat tumpah ruwah memadati sekitar dermaga kapal motor yang biasa digunakan sebagai pelabuhan tranportasi Pekon Lombok--Suka banjar, atau pelabuhan kapal motor jika ada wisatawan yang ingin mengitari Danau Ranau.
Cuaca begitu bersahabat, meskipun Lampung Barat terkenal memiliki curah hujan tinggi, tetapi pagi itu matahari bersinar terang. Masyarakat yang ingin menonton atau peserta sudah mulai memadati lokasi dermaga yang hanya berukuran sekitar 50 x 20 meter tersebut.
Suasana semakin semarak ketika sepuluhan kapal motor milik masyarakat dari Pekon Sukabanjar, Heni Arong, dan Pekon Lombok berputar-putar mengitar hamparan Danau Ranau dengan kilauan warna berbagai aksesori adat Lampung yang penuh makna. Sorak-sorai pun mengalir dari para pengunjung yang datang dari berbagai wilayah.
Tidak hanya sampai di situ, setelah Bupati Lampung Barat Mukhlis Basri membuka acara tersebut, gemuruh pekik dan dukungan kian melengking ketika menyaksikan peserta lomba tarik tambang jukung adu strategi dan kekuatan untuk mengalahkan lawan masing-masing.
Lomba-lomba lainnya juga banyak menarik perhatian dan decak kagum, salah satunya lomba memanah (ngera'as). Fantastis, hanya dalam waktu 30 menit dan lokasi ditentukan, Ansori juara I memanah dengan alat tradisional itu berhasil mengumpulkan ikan dengan bobot 2 kilogram.
Tidak salah jika lomba ini menggambarkan bahwa Danau Ranau tidak hanya memiliki panorama keindahan, tetapi juga memiliki potensi ikan yang melimpah ruah. Meskipun hampir setiap hari nelayan mendapat banyak tangkapan, ikan tetap berkembang di Danau Ranau. Sebagian pengunjung yang datang dari luar Lampung Barat, yakni anggota klub sepeda gunung Rakata Cycling Club yang sempat bermalam di Pekon Lombok, tidak menyia-nyiakan momentum Gebyar Pesona Lombok Ranau untuk menyempatkan diri mengarungi Danau Ranau memandangi tepi danau di kaki Gunung Seminung.
Mendayung perahu bagi masyarakat adalah kegiatan yang biasa dikerjakan sehari-hari, bocah 7 tahun pun berani mengarungi Danau Ranau dengan perahu, tetapi jika dikemas dalam lomba tarik tambang. Menjadi pemandangan baru tidak hanya membutuhkan tenaga besar, tetapi strategi pun harus dipakai agar lawan tidak bisa menarik perahunya.
Ibu-ibu rumah tangga warga setempat juga ambil bagian. Mendayung perahu bukan hanya keahlian kaum adam, melainkan kaum hawa pun piawai menggunakan perahu dengan menggerakkan dayung.
Bersepeda Menyusuri Tepi Danau Ranau
Gebyar Pesona Lombok Ranau juga dimanfaatkan club sepeda gunung Rakata Cycling Club dari Bandar Lampung, rombongan yang berjumlah sekitar 40 orang datang ke Pekon Lombok sejak Sabtu (1-11), menikmati pesona Danau Ranau dengan cara yang berbeda. Geografis Pekon Lombok yang dikelilingi perbukitan menjadi daya tarik tersendiri bagi komunitas tersebut untuk menikmati keindahan alam Lampung Barat.
Minggu (2-11), sekitar pukul 06.00, rombongan yang tinggal di rumah-rumah masyarakat itu mulai menyiapkan tunggangan yang sudah dipersiapkan sejak baru tiba. Di bawah komando ketua regu, rombongan bergerak meninggalkan perkampungan sasarannya menyusuri kaki Gunung Seminung lalu tepi Danau Ranau.
Jarak tempuh sekitar 4 kilometer yang sudah disiapkan Oka, anggota Rakata Cylcing Club, dengan medan bervariasi; jalan setapak, perbukitan curam dengan akhir lokasi Hotel dan Restoran Seminung Lombok Resort, yang menghadirkan pemandangan hamparan Danau Ranau. Di lokasi ini rombongan sempat melepas penat sejenak sebelum bergabung dengan masyarakat dalam kegiatan Gebyar Pesona Lombok Ranau.
Pekon Lombok Dulu dan Sekarang
Puluhan tahun silam Masyarakat Pekon Lombok, Kecamatan Sukau, Lampung Barat, seakan terpisah dari dunia luar hanya bisa dijangkau dengan waktu 2 jam perjalanan dengan kapal motor dari Banding Agung, OKU, Sumsel.
Harapan masyarakat bahwa akses jalan yang akan dilalui kendaraan roda dua dan empat akan terbuka sekitar tahun 1969. Mobil yang dipergunakan Gubernur Lampung Zainal Abdin Pagar Alam, pada masa itu memaksa masuk pekon yang berada di tepi Danau Ranau dan kaki Gunung Seminung.
Karena tidak ada jalan, mobil itu harus ditarik oleh masyarakat untuk melewati jurang-jurang terjal, curam di tengah belantara. "Kami terpaksa menarik mobil Pak Gubernur karena tidak ada jalan," kata Payin, salah seorang saksi hidup di masa itu.
Bersama perjalanan waktu sekitar tahun 1990-an, onderlaag dari Way Betanding, Pekon Buay Nyerupa, Kecamatan Sukau, mulai dibangun. Dan pada 2004 jalan menuju Pekon Lombok pun di-hotmix.
Dinamika dan ekonomi masyarakat semakin menggeliat, apalagi setelah Pemkab Lampung Barat membangun Kawasan Wisata Terpadu Seminung Lumbok Resort, yang memiliki pesona keindahan paduan Danau Ranau dan Gunung Seminung. n HENDRI ROSADI/M-1
Sumber: Lampung Post, Minggu, 9 November 2008

