Bahasa Lampung Perlu Terintegrasi Dengan Pelajaran Seni dan Budaya

Minggu, 16 Maret 2014

Bahasa Lampung perlu diintegrasikan ke dalam pelajaran seni dan budaya di jenjang sekolah. Dampaknya akan terlihat jelas karena langsung dipraktikan.
Menurut akademisi FKIP Universitas Lampung Farida Ariyani pengintegrasian muatan lokal bahasa Lampung itu jauh lebih mangkus dan sangkil jika diterapkan ke dalam pelajaran seni dan budaya.

Baca Selengkapnya...

Menonton 'Ngumbai Lawok' Teluk Semaka

Rabu, 17 Agustus 2011

Orang menyebut "Lebaran" campur "Agustusan" untuk menggambarkan suasana sekitar dermaga pelabuhan laut dan tempat pelelangan ikan (TPI) Pasar Madang, Kotaagung, selama tiga hari itu. Ratusan kapal motor dan perahu tradisional ikut ambil bagian dalam pesta nelayan, yang dikenal dengan ruwatan laut atau larung atau ngumbai lawok 2009.

Ribuan masyarakat nelayan itu mengekspresikan rasa suka citanya dengan mengibarkan ratusan umbul-umbul dan menghiasi perahu-perahu mereka dengan aneka dekorasi warna-warni.
Pesta laut tahunan ini merupakan perwujudan dari rasa syukur nelayan Teluk Semaka atas berkah yang mereka dapatkan selama ini. Diawali dengan doa dan istigasah, pergelaran wayang golek semalam suntuk, lalu hiburan orkes dangdut. Puncak acara ada pada Kamis (19-11), yakni larung dongdang yang berisi sesaji dan kepala kerbau di Karang Kuku, suatu tempat di tengah perairan Teluk Semaka. Tempat itu dipercaya sebagai tempat bersemayam penunggu laut Teluk Semaka.
Ritual ngelarung kepala kerbau lengkap dengan sesaji, antara lain makanan, minuman, kue, rokok, uang, kembang, dan ayam itu menjadi puncak pesta nelayan ruwatan laut Teluk Semaka 2009. Dan menjadi daya tarik bagi para nelayan dan warga lainnya di Kotaagung dan sekitarnya. Juga kehadiran pengunjung dari luar yang juga ingin menyaksikan rangkain ritual dalam pesta laut ini.

Wayang Golek pada Rabu (18-11) membawakan lakon khusus yang diperuntukan bagi pesta laut. Kemudian, di puncak lakon, sesaji utama berupa kepala kerbau dan sesaji yang diletakkan di dalam dongdang, di arak keliling oleh sekelompok muda-mudi berpakaian adat khas nusantara. Bupati Tanggamus Bambang Kurniawan, wakil Bupati Sujadi Saddad, Dandim 0424/Tanggamus Letkol Kav. Robert Owen Tambunan, Kapolres AKBPD Deny Pujianto dan para pejabat ikut berpartisipasi.
Dongdang ini kemudian dibawa oleh kapal utama, diringi ratusan kapal motor dan perahu nelayan yang penuh penumpang di belakangnya, mengihasi laut Teluk Semaka yang hari itu tenang dan damai. Pengunjung dari luar boleh menumpang dan berbaur dengan perahu lain jika ingin ikut melarung sasaji ke tengah laut. Arak-arakan ini menjadi prosesi yang dinilai sakral dalam rangkaian ritual pesta laut ini.

Karang Kuku berada sekitar 10 mil dari PPI Pasar Madang. Di situ, ritual penglepasan sesaji pun dilaksanakan. Setelah dilepas, ribuan nelayan yang sudah siap dengan alat timba memperebutkan sesaji dan air yang bercampur darah dari kepala kerbau. Suasanapun menjadi riuh-rendah, kapal-kapal pun berbenturan satu sama lain. Bahkan, ada nelayan yang jatuh ke dalam laut. Setelah itu, kemudian semua kapal pun beranjak kembali ke muara meninggalkan dengan ikhlas sesaji tersebut.

Sesaji yang didapat dipercaya membawa berkah serta keberuntungan. Para nelayan juga menyirami kapal-kapal mereka dengan air laut di sana, sebagai simbol kapal mereka dicuci bersih untuk menghadapi hari esok yang lebih cerah. Dengan acara selamatan dan syukuran ini bagi para nelayan dan masyarakat luas, secara batin membawa rasa tenang melaut untuk mencari ikan.
Setelah penglepasan sesaji, di sekitar tempat lelang rangkaian acara masih tetap berlangsung. Hiburan muusik dangdut yang diselenggarakan sponsor, menghibur para pengunjung yang masih memadati lokasi. Selama prosesi ruwatan laut ini, nelayan memilih libur melaut dan tidak ada aktivitas jual beli ikan di pelelangan selama pesta berlangsung.
Pesta laut ini cukup sakral jika direnungi. Selain mempertahankan warisan budaya dan adat istiadat, pesta ini mengandung pesan dan pelajaran tentang arti penting dari bersyukur, kebersamaan, kekeluargaan antarwarga (nelayan), gotong royong dan berbagai sisi positif lainnya.

Daya Tarik Wisata

Sudah menjadi tradisi tahunan para nelayan mengungkapkan syukur dan terima kasih kepada Sang Mahakuasa atas keberhasilan dan keselamatan dalam menangkap ikan dari laut melalui pesta laut. Tokoh masyarakat nelayan Teluk Semaka, H.M. Nasir Ambo Ase, mengungkapkan pesta nelayan diikuti warga pesisir, sehingga menjadi sangat meriah. "Syukuran nelayan ini sudah menjadi pesta tradisional nelayan Teluk Semaka," kata dia.
Teluk Semaka merupakan salah satu pelabuhan dagang terkenal sejak zaman kolonial Belanda di pantai barat Lampung. Teluk Semaka juga menjadi pelabuhan terapung bagi kapan tanker dan supertanker yang khusus minyak mentah dan LPG.
Setiap hari Teluk Semaka selalu ramai oleh aktivitas bongkar muat, baik hasil perikanan maupun hasil bumi dari Pulau Tabuan, dan pesisir Tanjung China serta Belimbing di Lampung Barat. Selain itu, Teluk Semaka adalah sebuah daerah tujuan wisata, dengan pantai sebuah teluk yang luas dan pemandangan alamnya yang indah.

Sepanjang pesisir ini memang memesona. Debur ombak panjang bergulung-gulung tiada henti, berpadu hutan lebat Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, julang Gunung Tanggamus nan biru, dan Teluk Semaka dengan sunset-nya adalah anugerah indah yang sayang dilewatkan.
Laut yang biru dengan kekayaan hayati di dalamnya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan berkunjung Teluk Semaka. Ikan blue marline dan lumba-lumba juga hidup di Teluk Semaka ini.
Tahun depan, jika Anda berkesempatan untuk menyaksikan pesta laut atau pesta nelayan itu, sebaiknya jangan melewatkan berbagai objek wisata di sepanjang pesisir Teluk Semaka. Antara lain kegiatan bongkar muat di pelabunan laut Kotaagung, kesibukan nelayan di TPI Pasar Madang, pantai Terbaya, pantai Curug, pantai Batu Balai, pantai Harapan Way Gelang, pantai Sawmil, dan sebagainya. n SAYUTI/M-1(sumber - lampung post

Baca Selengkapnya...

Budaya Bediom di Lampung Barat

Jumat, 19 November 2010

Budaya "Bediom" (pindah rumah) harus terus dilestarikan masyarakat Lampung Barat sebagai warisan leluhur, kata bupati setempat Mukhlis Basri, di Liwa, Minggu.
"Adat budaya yang dimiliki Lampung Barat beragam, sehingga menjadi keunikan dan daya tarik tersendiri, salah satunya adalah ’Bediom’," kata Mukhlis Basri, di Liwa, Minggu.
Dia menjelaskan, tradisi "Bediom" menjadi bagian tak terpisahkan masyarakat adat di Lampung Barat. "Dengan keaslian budaya turun temurun ini, akan membawa dampak yang positif bagi pelestarian budaya di tengah zaman yang serba canggih seperti ini," kata dia.

Baca Selengkapnya...

Lampung Barat Mengembangkan Desa Wisata

Selasa, 12 Oktober 2010

Pemerintah Kabupaten Lampung Barat tengah mengembangkan program desa wisata, yaitu wisata berbasis pemberdayaan masyarakat. Desa Lombok (baca Lumbok) di tepi Danau Ranau merupakan salah satu percontohan program ini.

Baca Selengkapnya...

Festival Krakatau Dibuka

Selasa, 15 Juni 2010

Pergelaran Festival Krakatau ke-20 dibuka Rabu (9-6) hingga 25 Juli mendatang. Biaya yang dibutuhkan untuk pergelaran tersebut diperkirakan mencapai Rp700 juta dan bersumber dari APBD Lampung 2010.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung Gatot Hudi Utomo mengatakan untuk pergelaran tahunan yang mengikutsertakan duta besar dari negara sahabat dan pawai budaya se-Lampung, anggaran senilai Rp700 juta masih relatif kecil.

Baca Selengkapnya...

  © Budaya Lampung Atrium by Artikel 2008 info terkini info terkini

Back to TOP