Pengelola Menara Siger Gelar Berbagai Lomba
Kamis, 31 Desember 2009
Momen akhir tahun 2009 dimanfaatkan pengelola wisata Menara Siger dengan menampilkan pentas seni dan beberapa perlombaan.
TTKKDH Gelar Festival Seni Tari dan Silat
Jumat, 25 Desember 2009
BKMT Lestarikan Seni Budaya Islam
Sabtu, 24 Oktober 2009
Pentas Seni Budaya Memukau
Sabtu, 25 April 2009
Festival Radin Jambat Tarik Wisatawan
Atraksi Seni Daerah Semarakkan HUT Lampung
Senin, 16 Maret 2009
Sebelas kabupaten/kota di Lampung menampilkan atraksi masing-masing. Setiap atraksi mengilustrasikan adat budaya atau legenda di daerah masing-masing. Sekda Irham Ja'far Lan Putra mewakili Gubernur Syamsurya Ryacudu, mengatakan pergelaran seni budaya itu dalam rangka memperingati HUT ke-45 Provinsi Lampung. Kegiatan itu juga menjadi wadah dalam mengekpresikan budaya Lampung, sekaligus melestarikan seni budaya daerah.
"Kegiatan ini lebih istimewa karena terkait persiapan menghadapi event tahun kunjungan Lampung 2009," kata Irham ketika membuka acara. Pemerintah provinsi juga bekerja sama dengan stakeholder dan pemda kabupaten/kota memeriahkan Visit Lampung Year 2009 dengan menyelenggarakan berbagai event seni dan budaya. Selama Januari--Desember 2009, ada 42 kegiatan pariwisata yang digelar oleh 9 kabupaten/kota. Bandar Lampung melaksanakan Festival Durian, di Lampung Barat ada Festival Stabas, dan event yang cukup besar, yaitu Festival Krakatau di Lampung Selatan dan Bandar Lampung.
"Kami mengharapkan event-event ini mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan meningkatkan pergerakan wisata nusantara," kata dia. Sehingga kebudayaan dan pariwisata berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Usai sambutan, peserta seni sebelas kabupaten/kota menampilkan atraksinya. Yang paling memukau penampilan dari daerah Way Kanan. Musik pengiring mengalun keras dan menghentak. Raden Jambat duduk di atas tandu yang diusung empat prajurit. Pangeran muda ini berkeliling ke berbagai daerah mencari calon istri yang dia idamkan, yaitu Putri Betik Hati.
Dayang-dayang menari menemani perjalanan Raden Jambat. Untuk mendapatkan sang putri, Raden Jambat harus berhadapan dengan Sindang Belawan yang terkenal bengis dan kejam. Sesuai dengan adat ketika itu, pertarungan dilakukan dengan sabung ayam. Ayam Raden Jambat bertarung dengan ayam Sindang Belawan. Ayam Raden Jambat menang.
Tiba-tiba Sindang Belawan membunuh ayam Raden Jambat dan bertarung dengan pemiliknya. Musik semakin keras menghentak. Prajurit mengambil bambu runcing, saling bertempur. Atraksi jatuh secara serentak yang diperagakan prajurit memukau penonton. Raden Jambat membunuh Sindang. Sebagai atraksi penutup, Raden Jambat memutar bambu runcing di udara dan mengelilingi tubuhnya. Gerakan itu semakin cepat sesuai dengan iringan musik yang semakin menghentak. Lalu, Raden Jambat kembali ke tandunya, dia berhasil memboyong putri Betik Hati untuk dijadikan permaisuri.
Pergelaran lainnya yang ditampilkan kemarin, cerita peperangan antara pengikut Pangeran Subing dengan Pasukan Raja Dilawok. Sekitar 40 pengikut Pangeran Subing bersenjatakan pedang, akhirnya berhasil membunuh Raja Dilawok. Cerita itu ditampilkan kelompok tari utusan Kabupaten Lampung Tengah. Kelompok tari dari Kabupaten Lampung Tengah itu mengusung tari bertajuk Butan Subing. Dengan sekitar 60-an penari, mereka menggambarkan akhir cerita perang yang membawa kemenangan bagi Pangeran Subing.
"Cerita inilah sebagai awal dari terbentuknya daerah dengan nama Abung Siwo Mego, yang kemudian dijadikan simbol Kabupaten kami," kata salah seorang pekerja seni yang mengawaki kelompok tari itu, Syahrun Tanjung, ditemui di lokasi acara, kemarin. Dengan dikomandani Syahrun Tanjung, para penari menggerakkan tubuhnya menyesuaikan iringan musik tradisional. Iringan musik yang langsung dimainkan itu terdiri dari jenis alat musik gamelan, rebana, canang, serta gong. Kelompok tari asal Kabupaten Lampung Tengah itu merupakan salah satu penampilan di antara kelompok asal kabupaten lain.
Kilat dan gemuruh iringan tari itu terlihat pada penampilan para penari yang tampil secara kolosal. "Kami memang mempersiapkannya untuk acara ini. Karena inilah sumbangsih kami kepada daerah," kata Syahrun Tanjung yang juga staf Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Lampung Tengah itu.
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Lampung, Adeham, mengatakan acara ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-45 Lampung. Tujuannya, selain memeriahkan HUT, juga mengeksplorasi kekayaan seni budaya di Lampung. "Terlihat banyak legenda tua yang dapat dieksplorasi menjadi sebuah sendra tari. Ini akan menjadi potensi wisata daerah," kata Adeham didampingi Kepala Bidang Humas Diskominfo Lampung, Heriyansyah, kemarin. n RINDA MULYANI/MUSTAAN/K-4
Sumber : Lampung Post - 15-03-2009
Seniman Lampung Tampilkan Sastra Lisan
Minggu, 22 Februari 2009
"Meski tak dibantu pendanaan dari pemda, kami akan tetap berangkat dan mengikuti konferensi ini. Pasalnya, ini sebuah event bergengsi yang sangat penting untuk memperkenalkan Lampung agar masuk dalam jejaring Internasional," kata Direktur Eksekutif Jung Foundation, Christian Heru, di Bandar Lampung, kemarin.
Dalam konferensi yang mengusung tema Perlindungan Warisan Budaya Takbenda dan Pembangunan Perkotaan Berkelanjutan itu, Jung Foundation yang diundang sebagai utusan Lampung akan mengangkat persoalan sastra lisan ragam hias.
"Kalau di Jawa punya batik dan wayang. Lampung punya warisan budaya takbenda berupa sastra lisan (folklore) dan ragam hias yang bisa diangkat sebagai ikon Lampung," ujar Christian yang juga peneliti folklore pada Sekelek Institute Publishing House ini.
Christian menambahkan sudah sejak beberapa tahun lalu pihaknya dari Jung Foundation bermitra dengan Subdin Kebudayaan Dinas Pendidikan Lampung menyosialisasikan dan menumbuhkembangkan sastra lisan Lampung dan ragam hias kepada pelajar.
"Tetapi, saat ini persoalannya Subdin Kebudayaan sudah dilikuidasi dan dihilangkan dari Dinas Pendidikan. Jadi dengan siapa kami harus bermitra," kata dia.
Padahal, kata Christian Heru, sastra lisan dan ragam hias dapat diaplikasikan jadi cendera mata dan ikon Lampung. "Mudah-mudahan UNESCO melirik potensi yang dimiliki Lampung dan bisa menjadi funding untuk pelestariannya," kata Christian.
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Lampung (DKL) Hj. Syafariah Widianti mengatakan anggaran untuk Dewan Kesenian Lampung yang dikucurkan dari APBD amat minim. Bahkan anggaran yang diajukan dalam APBD dan APBD Perubahan ini untuk DKL dicoret.
"Bagaimana kami akan membantu seniman, kalau dana untuk masing-masing komite saja dipangkas," kata Syafariah Widianti. n RLS/K-2
Sumber: Lampung Post, Sabtu, 25 Oktober 2008
Mahasiswa Lampung Se-Jawa Sosialisasikan Budaya Lampung
Hal tersebut terungkap dalam pertemuan forum mahasiswa Lampung se-Jawa di Lampung Post, Selasa (7-10). Kegiatan dihadiri pengurus Himpunan Mahasiswa Lampung (Hipmala) Yogyakarta, Persatuan Mahasiswa Lampung (Permala) Jakarta, Kamapala Semarang, dan Ikatan Mahasiswa Lampung (Ikamala) Solo.
Ketua Permala Jakarta, Erwin Sanjaya, mengatakan sesuai dengan visi dan misi organisasi mahasiswa Lampung di Jakarta, setiap mahasiswa Lampung yang studi di Jakarta mengemban tugas sebagai duta Lampung, yaitu memperkenalkan seni dan budaya Lampung kepada khalayak ramai, baik dalam bentuk seminar ataupun pergelaran seni.
Dia mencontohkan anjungan Lampung bisa dilihat pengunjung pergelaran seni budaya di Taman Mini Jakarta. "Kami yang berada di luar daerah sangat peduli terhadap seni dan budaya Lampung. Sebab itu, kami miris mengetahui bahasa Lampung masuk salah satu bahasa dan sastra daerah yang terancam punah," kata Erwin.
Ketua Hipmala Yogyakarta, Jaka Mirdinata, mengatakan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kemarin, penampilan seni dan budaya Lampung dalam pentas Sakura di Yogyakarya meraih peringkat lima besar. Bahkan, Hipmala memiliki sanggar seni budaya Lampung yang selalu tampil dalam berbagai acara kesenian dan peringatan hari besar nasional.
Sementara itu, Humas Kamapala Semarang, Hamdani dan pengurus Ikamala Solo, Alfajri Amin mengatakan pendirian organisasi mahasiswa Lampung di Semarang dan Solo terhitung masih baru. Sebab itu, mereka belajar banyak dari Hipmala Yogyakarta dan Permala Jakarta.
"Lampung tidak akan menjadi besar tanpa ada yang membesarkannya, karena itu kita sebagai mahasiswa Lampung mengemban amanah mengembangkan seni dan budaya Lampung," kata Hamdani.
Sementara itu, salah seorang anggota lembaga penyelamat dan pengembang seni dan budaya Indonesia, Jakarta, Aliza, mengatakan matinya bahasa dan sastra Lampung diakibatkan orang Lampung sendiri.
Selain rasa tidak percaya diri menggunakan bahasa Lampung dalam keseharian, orang Lampung juga memiliki toleransi yang sangat tinggi terhadap orang lain. Ketika dalam sebuah forum terdapat orang bukan Lampung, orang Lampung memilih menggunakan bahasa Indonesia.
Salah satu cara menghidupkan kembali bahasa ibu itu adalah dengan menggunakan bahasa Lampung dalam keseharian. Begitu juga dengan mahasiswa Lampung yang berada di luar daerah, harus melestarikan bahasa, seni, dan budaya Lampung.
Sumber: Lampung Post, Kamis, 9 Oktober 2008

