Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan

Adat Istiadat dan Bahasa Lampung

Kamis, 26 November 2009

Bahasa Lampung
PDF Print
E-mail
Aksara Lampung yang disebut dengan Had Lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara Pallawa dari India Selatan. Had Lampung diciptakan oleh Para Saibatin di Paksi Pak Sekala Brak pada awal Abad Ke 9.

Baca Selengkapnya...

Bahasa Lampung sebagai Identitas Kultural

Kamis, 05 Maret 2009

Septa Muktamar

PNS Pemkab Way Kanan

Secara umum, bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. Memahami bahasa tertentu akan membantu seseorang beradaptasi dengan lingkungan. Proses adaptasi bahasa pada individu memandunya mengidentifikasikan diri pada kelompok yang memiliki bahasa.

Penelitian Chomsky menyatakan proses alamiah dalam adaptasi bahasa, perlahan membentuk ikatan sosial antara individu dan individu lain dalam sebuah kelompok masyarakat. Terbentuknya ikatan sosial menciptakan identitas kultural sebuah kelompok. Syarat yang harus terpenuhi tentu saja masih terdapat sejumlah penutur yang menggunakan bahasa tersebut.

Bahasa Lampung sebagai bahasa daerah merupakan salah satu bahasa yang masih bertahan. Saat ini, ada 13 bahasa daerah yang jumlah penuturnya lebih satu juta penutur, termasuk bahasa Lampung (Kompas, 14-11-07).

Harus disadari identitas kultural kita sebagai masyarakat Lampung mulai luntur, apalagi di kalangan generasi muda. Adat dan budaya Lampung hanya digunakan dan dipraktekkan di daerah-daerah, di kantong masyarakat asli. Di perkotaan nyaris punah.

Anak-anak muda kini gengsi menggunakan bahasa Lampung. Bahasa Lampung seolah-olah menjadi bahasa kampungan, kalah dengan bahasa gaul ala anak muda Jakarta.

Ancaman punahnya bahasa Lampung, seperti yang ditulis Muhammad Hasim (Lampung Post, 25-2), mungkin dapat saja terjadi. Selain masyarakat Lampung asli bukanlah mayoritas, kenyataan menunjukkan bahasa Lampung tidak menjadi tuan rumah di daerah sendiri.

Penulis memiliki ilustrasi sebagai berikut. Ada dua orang Lampung berbicara menggunakan bahasa Lampung, kemudian datang orang ketiga; kebetulan orang Jawa. Setelah bertiga, mereka menggunakan bahasa Indonesia. Selanjutnya datang orang keempat yang kebetulan orang Jawa lagi, yang terjadi selanjutnya mereka berempat menggunakan bahasa Jawa dalam komunikasi.

Orang Lampung tidak percaya diri memakai bahasa Lampung dalam berkomunikasi, terlihat juga orang Lampung asli tidak mampu memengaruhi pendatang menggunakan bahasa Lampung. Jika ini terus terjadi, tentu saja bahasa Lampung akan menjadi bahasa yang ditinggalkan penutur.

Bandingkan dengan daerah Sumsel, Jawa ataupun Sunda. Di daerah-daerah tersebut, mau tidak mau, suka tidak suka, masyarakat sedapat mungkin berkomunikasi dengan bahasa-bahasa tersebut. Di Palembang, orang Jawa, Lampung, Padang atau suku-suku lain begitu datang dan menetap di daerah itu langsung menggunakan bahasa setempat; begitu juga di Bandung, Semarang, dan lainnya.

Tuan Rumah

Para ahli membagi bahasa Lampung dua dialek: Api dan nyou. Kini dikenal istilah dalam pelajaran bahasa Lampung, dialek I dan dialek O. Kesulitan diperoleh ketika bertemu kedua penutur dialek; mereka tidak dapat menentukan menggunakan salah satu bahasa.

Pemprov Lampung sejak lama mengupayakan bahasa Lampung masuk muatan lokal dalam kurikulum SD dan SMP melalui pelajaran bahasa Lampung. Dalam buku-buku pelajaran bahasa Lampung yang menjadi pegangan siswa, proporsi penguasaan bahasa lebih banyak pada penekanan bahasa tulisan. Dalam materi-materinya, siswa dipaksa mempelajari kedua dialek.

Dalam kerangka yang lebih besar, menurut Udo Z. Karzi, seharusnya mengajarkan bahasa bukan sekadar mengajarkan bahasa, melainkan siswa diajak belajar berbahasa karena kemampuan berbahasa meliputi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis (Lampung Post, 21-2-07). Akibatnya, tujuan penguasaan bahasa Lampung di kalangan siswa tidak maksimal.

Berkurangnya jumlah penutur bahasa Lampung menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pelestarian budaya Lampung, sebab bahasa menunjukkan identitas sebuah kebudayaan. Di tengah gempuran bahasa asing dan bahasa gaul, bahasa Lampung harus menjadi tuan rumah masyarakat Lampung.

Sebagai perekat sosial masyarakat, bahasa Lampung harus digunakan orang Lampung asli dan pendatang sehingga sekat-sekat perbedaan dan rasa memiliki sebagai orang Lampung dapat terwujud.

Penulis berpikir sederhana, penggunaan bahasa Lampung dapat dipraktekkan dengan cara memulai berbahasa Lampung menggunakan standar bahasa Lampung. Penutur bahasa Lampung, baik jurai Sai Batin atau Pepadun, baik berdialek I dan O, mesti sepakat memilih bahasa dari kedua dialek tersebut. Penulis mengusulkan, bahasa Lampung yang dituturkan orang Lampung yang tinggal di Bandar Lampung menjadi bahasa standar.

Mengapa Bandar Lampung? Penulis memiliki alasan, Bandar Lampung sebagai ibu kota provinsi merupakan pusat aktivitas; Bandar Lampung dapat menjadi kiblat dan pionir pemakaian bahasa Lampung.

Seperti di daerah lainnya, ibu kota selalu menjadi magnet. Begitu juga dalam berbahasa, jika kita biasa berkomunikasi dalam bahasa Lampung antarpenutur Lampung asli, orang Lampung yang tidak biasa berbahasa Lampung akan berupaya belajar dan menguasai bahasa.

Penggunaan bahasa dapat saling memengaruhi. Lihatlah di daerah lain seperti Sumatera Selatan dengan ibu kota Palembang. Sebagai tetangga terdekat, di sana ada bahasa standar, walaupun masyarakatnya juga berbagai suku; ada Ogan, Komering, Semendo. Tetapi bila bertemu, yang digunakan bahasa Palembang kota. Di Semarang atau Yogyakarta, masyarakatnya pun beragam, ada Banyumasan dan Cirebonan. Jika berkomunikasi, masyarakat menggunakan bahasa Jawa standar.

Begitu juga di daerah lain seperti bahasa Banjar di Kalsel, Bugis di Makassar, dan Bengkulu. Itu artinya, bahasa-bahasa di kota tersebut dapat memengaruhi varian-varian bahasa dari subsuku tertentu yang membentuk kesatuan ikatan sosial pada masyarakatnya.

Digunakannya bahasa Lampung standar ibu kota akan mendorong adaptasi bahasa Lampung secara alamiah. Ini perlahan dapat membentuk ikatan sosial antarindividu dalam sebuah kelompok masyarakat sehingga terwujud perasaan kesatuan dan kecintaan sebagai orang Lampung. n

Sumber : Lampung Post

Baca Selengkapnya...

Mengenal Lampung

Minggu, 22 Februari 2009

Masyakat Adat Lampung

Masyarakat Lampung mempunyai falsafah Sang Bumi Ruwa Jurai, yang artinya sebuah rumah tangga dari dua garis keturunan, masing-masing melahirkan masyarakat beradat pepadun dan masyarakat beradat sebatin. Sekarang, pengertian Sang Bumi Ruwa Jurai diperluas menjadi masyarakat Lampung asli (suku Lampung) dan masyarakat Lampung pendatang (suku-suku lain yang tinggal di Lampung).

Nenek moyang orang Lampung menurut legenda adalah Puyang Mena Tepik di negeri Sekalabrak. Daerah ini dinamai Lampung karena jika dilihat dari laut seperti bukit yang mengapung.

Aksara Lampung merupakan aksara "ka-ga-nga" yang mirip dengan aksara Batak, aksara Bugis, dan aksara Sunda Kuna (bukan ha-na-ca-ra-ka).

Seperti dikatakan tadi masyarakat adat Lampung terbagi dua, yaitu masyarakat adat Lampung Pepadun dan masyarakat adat Lampung Sebatin.

Masyarakat beradat Pepadun terdiri dari: Pertama, Abung Siwo Mego (Unyai, Unyi, Subing, Uban, Anak Tuha, Kunang, Beliyuk, Selagai, Nyerupa). Masyarakat Abung mendiami tujuh wilayah adat: Kotabumi, Seputih Timur, Sukadana, Labuhan Maringgai, Jabung, Gunung Sugih, dan Terbanggi.

Kedua, Mego Pak Tulangbawang (Puyang Umpu, Puyang Bulan, Puyang Aji, Puyang Tegamoan). Masyarakat Tulangbawang mendiami empat wilayah adat: Menggala, Mesuji, Panaragan, dan Wiralaga.

Ketiga, Pubian Telu Suku (Minak Patih Tuha atau Suku Manyarakat, Minak Demang Lanca atau Suku Tambapupus, Minak Handak Hulu atau Suku Bukujadi). Masyarakat Pubian mendiami delapan wilayah adat: Tanjungkarang, Balau, Bukujadi, Tegineneng, Seputih Barat, Padang Ratu, Gedungtataan, dan Pugung.

Keempat, Sungkay-WayKanan Buay Lima (Pemuka, Bahuga, Semenguk, Baradatu, Barasakti, yaitu lima keturunan Raja Tijang Jungur). Masyarakat Sungkay-WayKanan mendiami sembilan wilayah adat: Negeri Besar, Ketapang, Pakuan Ratu, Sungkay, Bunga Mayang, Belambangan Umpu, Baradatu, Bahuga, dan Kasui.

Sedangkan masyarakat beradat Sebatin terdiri dari: Pertama, Peminggir Paksi Pak (Ratu Tundunan, Ratu Belunguh, Ratu Nyerupa, Ratu Bejalan di Way). Kedua, Komering-Kayuagung, yang sekarang termasuk Propinsi Sumatera Selatan. Masyarakat Peminggir mendiami sebelas wilayah adat: Kalianda, Teluk Betung, Padang Cermin, Cukuh Balak, Way Lima, Talang Padang, Kota Agung, Semangka, Belalau, Liwa, dan Ranau. Lampung Sebatin juga dinamai Peminggir karena mereka berada di pinggir pantai barat dan selatan.

Menurut kitab Kuntara Raja Niti, orang Lampung memiliki sifat-sifat sebagai berikut: (1) piil-pusanggiri (malu melakukan pekerjaan hina menurut agama serta memiliki harga diri), (2) juluk-adok (mempunyai kepribadian sesuai dengan gelar adat yang disandangnya), (3) nemui-nyimah (saling mengunjungi untuk bersilaturahmi serta ramah menerima tamu), (4) nengah-nyampur (aktif dalam pergaulan bermasyarakat dan tidak individualistis), dan (5) sakai-sambaian (gotong-royong dan saling membantu dengan anggota masyarakat lainnya).

Sifat-sifat di atas dilambangkan dengan ‘lima kembang penghias sigor’ pada lambang Propinsi Lampung. Sifat-sifat orang Lampung tersebut juga diungkapkan dalam adi-adi (pantun):

Tandani hulun Lampung, wat piil-pusanggiri
Mulia hina sehitung, wat malu rega diri
Juluk-adok ram pegung, nemui-nyimah muwari
Nengah-nyampur mak ngungkung, sakai-sambaian gawi.


Sejarah Singkat Lampung

Pada zaman Hindu-Buddha, Lampung termasuk daerah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Hal ini ditandai oleh prasasti dari Datu (Raja) Sriwijaya bertarikh 608 Saka (686 Masehi) yang ditemukan di desa Palas Pasemah, daerah Kalianda. Berita Tionghoa juga menyebutkan kerajaan To-lang-po-hwang, dan mungkin nama itu sebutan Cina untuk Tulangbawang. Tetapi sampai kini belum ada bukti prasasti tertulis yang menunjang adanya kerajaan tersebut.

Di desa Bawang, antara Liwa dan Gunung Pesagi, ditemukan prasasti Hujung Langit yang bertarikh 9 Margasira 919 Saka (12 November 997 Masehi), sebagaimana tercantum dalam buku Prof Dr Louis-Charles Damais, Epigrafi dan Sejarah Nusantara, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Jakarta, 1995, hh.26-45. Nama raja yang mengeluarkan prasasti itu tercantum pada baris ke-7, menurut pembacaan Prof Damais namanya Sri Haridewa. Inilah nama raja di daerah Lampung yang pertama kali ditemukan pada prasasti! Melihat lokasinya, barangkali prasasti tersebut ada hubungannya dengan Kerajaan Sekalabrak yang legendaris itu.

Pada abad ke-14 tercatat Kerajaan Buway Tumi. Menurut sumber sejarah Sunda, salah seorang putri Buway Tumi yang bernama Dewi Ratna Sarkati diambil menjadi permaisuri Prabu Wastu Kancana dari Kerajaan Sunda. Menurut cerita turun-temurun, Dewi Ratna Sarkati membawa pisang muli (bahasa Lampung: muli = gadis) ke tanah Sunda, yang sampai sekarang tetap disebut "cau muli" oleh masyarakat Jawa Barat.

Bersamaan dengan masuknya agama Islam dari Banten ke Lampung pada masa Sultan Maulana Hasanuddin abad ke-16, Lampung berada di bawah pengaruh Kesultanan Banten. Konon kabarnya Fatahillah (panglima Demak asal Pasai, pendiri kota Jakarta, dan pelopor pengislaman Banten) menikahi Putri Sinar Alam dari Keratuan Darah Putih di Lampung. Menurut Thomas Walker Arnold dalam bukunya The Preaching of Islam, yang diterjemahkan oleh Nawawi Rambe, Sejarah Da'wah Islam (Widjaya, Jakarta, 1979, h. 324), Islam masuk ke Lampung dari Banten dengan dibawa oleh seorang pemimpin adat Lampung yang bernama Minak Kemala Bumi.

Daerah Lampung dibagi menjadi beberapa ‘kejonjoman’ (semacam kabupaten) yang masing-masing dikepalai seorang jonjom mewakili sultan Banten. Ketika Banten dikalahkan VOC pada abad ke-18 (sekitar tahun 1750), Lampung ikut menjadi daerah jajahan Belanda. Tetapi ini hanya di atas kertas perjanjian VOC dengan Banten, sebab kenyataannya kekuasaan kolonial baru tertanam di Lampung pada tahun 1817, dengan terbentuknya Lampongsche Districten di bawah seorang residen yang berkedudukan di Terbanggi. Pada tahun 1847, pemerintah Hindia-Belanda memindahkan ibukota (kedudukan residen) dari Terbanggi ke Teluk Betung.

Perlawanan yang terkenal dalam menentang kolonialisme Belanda adalah Perang Lampung (Lampong Oorlog) pada abad ke-19 yang dilancarkan oleh Radin Intan dari Kalianda selama 30 tahun (1826-1856), sezaman dengan Perang Jawa dari Pangeran Diponegoro serta Perang Paderi dari Tuanku Imam Bonjol. Perang Lampung berakhir dengan gugurnya Radin Intan. Kini Radin Intan telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah seorang Pahlawan Nasional.

Pada tahun 1917 daerah Lampung dibagi menjadi dua afdeling dan enam onderafdeling. Pertama, Afdeling Teluk Betung yang meliputi Onderafdeling Teluk Betung, Semangka, dan Katimbang. Kedua, Afdeling Tulang Bawang yang meliputi Onderafdeling Tulang Bawang, Seputih, dan Sekampung.

Di zaman pendudukan Jepang (1942-1945), daerah Lampung berada di bawah pimpinan seorang Suchokkan Kakka, dan dibagi dalam tiga bunshu (Telukbetung, Metro, Kotabumi). Setiap bunshu terdiri dari beberapa gun (kewedanaan) yang membawahi marga-marga.

Setelah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945, daerah Lampung menjadi keresidenan yang tergabung ke dalam Propinsi Sumatera Selatan yang beribukota di Palembang. Baru pada tahun 1964, melalui UU No.14 Tahun 1964, terbentuklah Propinsi Lampung dengan ibukota Tanjungkarang-Telukbetung (sekarang menjadi Bandar Lampung).

Ada adi-adi yang populer pada tahun 1964/1965 ketika Lampung baru menjadi provinsi:

Lah lawi matti hanjak, patut ni ram bugindang
Ngaliyak Lampung minjak, bupisah jak pulimbang.


Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung

1. Berani menghadapi tantangan: mak nyerai ki mak karai, mak nyedor ki mak bador.
2. Teguh pendirian: ratong banjir mak kisir, ratong barak mak kirak.
3. Tekun dalam meraih cita-cita: asal mak lesa tilah ya pegai, asal mak jera tilah ya kelai.
4. Memahami anggota masyarakat yang kehendaknya tidak sama: pak huma pak sapu, pak jelma pak semapu, sepuluh pandai sebelas ngulih-ulih, sepuluh tawai sebelas milih-pilih.
5. Hasil yang kita peroleh tergantung usaha yang kita lakukan: wat andah wat padah, repa ulah riya ulih.
6. Mengutamakan persatuan dan kekompakan: dang langkang dang nyapang, mari pekon mak ranggang, dang pungah dang lucah, mari pekon mak belah.
7. Arif dan bijaksana dalam memecahkan masalah: way ni dang robok, iwa ni dapok.


* Drs. H. Irfan Anhory (Batin Kesuma Ningrat), Penyimbang Pekon Sukabanjar, Gunung Alip, Kabupaten TanggamusRata Penuh

Sumber: Situs Irfan Anshori, 1 April 2007

Baca Selengkapnya...

  © Budaya Lampung Atrium by Artikel 2008 info terkini info terkini

Back to TOP